Saya mempublikasikan email dari milis STIMIK AKI Pati ini dengan tujuan agar uneg-uneg dan pendapat teman kami, Ahmad Sholeh, bisa dibaca lebi banyak orang. Sholeh sendiri sudah memberikan izin kepada saya untuk mempublikasikannya. Saya belum sempat menyunting ejaannya.Mungkin lain kali.
Berikut emailnya:
Kita kan diharuskan membayar CCNA sebesar Rp. 100.000 @ utk masing-masing sertifikat dan kemungkinan jeni juga segitu, (Kami menyebutnya membeli sertifikat) pantesan negara kita termasuk jawara dalam hal korupsi, lha wong pendidikannya aja kaya gitu (kebanyakannya) banyak Universitas yang memberikan ijasah/title
sarjana dalam waktu yang relatif cukup singkat dengan membayar sejumlah uang. Its dilema in our country .Bali maning nyang ccna. Kalau sebelum diadakannya tes ccna kami diberikan pelatihan ttg jaringan sehingga kami benar-benar siap, benar-benar mumpuni dalam hal jarkom, sih ok. Masih mending, nantinya
kita punya ilmu pengetahuan ttg jarkom yg berkualitas. Jadi kalau di
tempat magang atau tempat kerja kita dihadapkan dengan jaringan
komputer, kita siap pakai.
Tapi pembelajaran ttg jarkom kita hanya 2 semester. Satu semester = 4
bulan (max). utk tiap bulan hanya 2x pertemuan. Terus terang aja,
kebanyakan dari kita mendapatka nilai yang cukup bagus bahkan sempurna
dalam mengerjakan ccna karena tinggal googling aja. Kunci sudah siap
kita panen tanpa harus menanam, memupuk ataupun menabur benih (kami
berasal dari keluarga petani jadi analoginya dari dunia pertanian
aja). Itupun bagi kita yang berhadapan derngan internet, kalau
ditempat magangnya gak ada koneksi internet ? ke warnet? Ya kalau yang
dari keluarga berduit banyak dan tempatnya tidak terlalu jauh dari
wanet. Kalau kami mau ke warnet terdekat waktu yang diperlukan + 30
menit itu sama saja waktu yang kami butuhkan ke kampus kita ini.
Ok. Kami dah bayar ccna 1-4, tapi karna dulu ada masalah ketika login
(lebih dari 1 hari kami coba login tapi gk bisa-bisa, padahal pada
hari senin ketika dbuka klo gk salah tgl 24 november, atau tanggal 1
desember 2008 kami dah berhasil mengerjakan 3dekstra. Tapi keesokan
harinya selama 2 hari berturut2 kami coba kembali. Eeehhh, kami gak
bissa masuk. beteeeeeeeeeeee)
Bete-bete a………………………………….h
.tgl 15 desember kami buka lagi tu ccna n Alhamdulillah bisa.tapi
tetep aja utk chapter 9 n finalnya lum di buka. Padahal kurang itu aja
insya Allah kami dah lolos. Karena utk ccna 3 kami pke kunci yang dah
disdiain temen-temen kita di internet. Utk ccna yang sebelumnya kami
ewuh klo pke kunci. Asal-asalan aja. (asal bener)
Kami dah bayar mahal-mahal kok gak ngrasain ujiannya (apalagi ilmunya)
paling dah ngalamin pengalaman gmn ngerjain pke kunci dan gmn ngerjain
pke nalar n pengalaman. Bueda banget hasilnya (bener sih lebih banyak
nilainya klo pke kunci). Gini aja kita tahu Allah sangat dekat dengan
kita, tapi kayaknya kami saat ini lagi down bgt lagi di lembah
terdalam dan tercuram dari iman. Dari pada kata-kata binatang atau
tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit /(kita sensor aja) keluar dari kami kasih dech
tu sertifkat / bukain tu ujian buat kami.
(kami ini manusia biasa ada nafsu amarah yang menjadi pembantu,
perpanjangan tangan dari syetan dan iblis)
Kalau jeni, kami punya trik tersendiri untuk mengerjakanya tanpa
menggunakan kunci. Tinggal install program java programming di laptop
/ di komputer terus kita ketikan script-script yang ada di soal-soal
tersebut. Daripada kita menggunakan kunci yang belum tentu bener atau
mungkin sudah pasti bener tapi kita gak tahu maksud dari skrip-skrip
di soalnya.Buat unsa.
Kalau ada info ttg ujian online ccna/jeni (atau apalagi yang mungkin
belum kami ketahui saat ini) mbok ya o mahasiswa / orang-orang yang
akan mengikuti ujian tersebut dikonfirmasi ulang apakah sudah
benar-benar siap mengerjakan ujian-ujian tersebut ?.
Sebtulnya selain sertifikat yang lebih kami inginkan adalah ilmu
pengetahuan dan kemampuan.Buat stimik
Mohon kami (mahasiswa) dipersiapkan untuk bisa dan mumpuni dalam
ujian-ujian yang akan kami alami. Entah itu ujian akademik, ujian
sebagai sarat program jardiknas ataupun ujian yang nantinya akan kami
alami di lapangan. Kalau ada orang atau kelompok atau instansi
mengatakan “wong kae mahasiswa/sarjana lulusan stimik-aki pati
ndandani komputer sing perkoro sepele ae ra iso, lha ning kampuse
diajari opo wae?”.
Lalu ini kami sharing pengalaman rekan kami (seorang sysadmin di
semarang) katanya ada dua orang mahasiswa yang magang (katanya dari
udinus dan undip) suatu ketika ada trouble n kedua mhsiswa tersebut gk
dapet ngatasinya (rekan kami mbatin ning kampusem di ajari opo…….,
nagatasi perkoro sepele kok ora pecus). Terus rekan kami nyeritain tu
kejadian kepada kami ketika kami mampir ke tempatnya. Kami ikut
senyum-senyum ja. Kami jawab aja “Mungkin mereka baru dalam dunia
jarkom kang. Mangkane mereka nuntut ilmu jarkom ning gne sampean ^_^”.
Kampus terkenal atau gak, besar atau seadanya asal outputnya ok, maka
imagenya di masyarakat akan ok.
Thanks kang indra n others atas sharingan ilmu dan pengalamannya ^_^.
Allah lah yang berkuasa membalas kebaikan sampean dan mahluk-mahluknya .Buat jardiknas
Di tempat-tempat magang/institusi yang telah ada koneksi internet dari
jardiknas kok kayak lagunya BBB (putus-nyambung putus-nyambung
melulu). Padahal dari pihak tempat magang (mengaku) telah mengeluarkan
sejumlah uang yang tidak sedikit untuk memasang koneksi jardiknas.
Dari pihak tempat magang mengatakan percuma dong bayar mahal-mahal
tapi mana koneksinya?
Jangan lupa mahasiswa (program beasiswa jardiknas) dperhatiin
kesejahteraannya. Jangan Cuma diperintah-perintah aja. Kalau
diperintah kasih dong ganti untungnya (ijol tukon rokok kek {itu bagi
yg ngrokok kyke}, ijol tukon bensin kek, ijol tune-up kendaraan and
otak serta tenaga kami donk).
Terus terang kalau bukan karena
1. rasa syukur / nrima kami atas nikmat Allah niscaya akan terasa amat
kurang tu kompensasi dari panjenengan-panjenengan.
2. manajemen keuangan dan manajemen waktu, terus terang tu kompensasi
kurang deh. Apa lagi sewaktu haarga bbm berada di atas awan gelap (gak
keliatan donk) gimana kami dapat pergi ke tempat perkuliahan atau ke
tempat magang atau tempat-tempat yang harus kami datangin untuk tugas
nisn/npsn (itu dah duluuuuuuuuu sekali, tapi uneg-uneg tentang itu
masih ada dalam ingatan kami)
makasih mas hendro, dulu udah pernah memberikan kami sejumlah uang utk
membeli bensin 1 Liter beberapa semester lalu. Hanya Allah lah yang
berkuasa membalas kebaikan panjenengan.
Tapi kami juga berterimakasih atas program ini, jika bukan karena
program ini mungkin kami telah menjadi seorang “kuli bagunan”,
“marinir AL” atau seorang petani dan peternak yang sukses di desa kami
(khusnudzon / positif thinking aja) tanpa mengenyam (merasakan)
pendidikan perkuliahan. Kami mendapat teman-teman yang baik-baik ,
ganteng n cantik paras dan ilmu yang dapat kami ambil dari pengalaman.
Pengajar yang mengamalkan ilmu-ilmunya kepada kami. Dan rekan-rekan
yang bersedia membantu kami entah dalam pekerjaan ataupun pegalaman
mereka.Buat pemerintah
Harga minyak dunia kan sudah turun banyak, turunin donk harga-harga.
Masa dulu swaktu aa kenaikan harga minyak sdikit aja harga-harga
langsug dinaikkan Jangan mencla-mencle / menjilat ludah sendiri.
Kemarin-kemarin sibuk dengan konversi MITAN ke gas LPG, tapi setelah
program tersebut dipaksakan berjalan lebih awal alias dikarbit,
eeeehhhhh harga MITAN subsidinya dicabut jadinya “lompat-lompat” alias
njumbul-njumbul harganya teyus suplai MITAN di kurangi. Nah yang dah
dapet tabung mo ngisi gas/tuker tabung berisi gas LPG, kesulitan juga
ndapetin tu gas LPG.
Beberapa waktu lalu kami kesulitan mendapatkan pupuk dengan harga yang
terjangkau.kami denger dari berita di radio, katanya supalysampai
bulan desember sudah habis di blan november. Waduw-waduw Merana banget
sih jadi rakyat.
Buat mentri pendidikan, tolong dijelasin donk ttg UU badan hukum
pendidikan! Kami masih belum paham kenapa harus diadain tu bhp,
menurut pertimbangane panjenengan apakah ini tidak akan membuat dunia
pendidikan di indonesia tambah carut-marut? Dan apakah tidak akan
menghambur-hamburkan uang pajak kami (rakyat indonesia) secara percuma?
Buat yang ngaku “wakil rakyat”yang lagi enak-enak duduk di kursi DPR-MPR.
Jangan Cuma “dudak-duduk”, “ngantak-ngantuk” terus kalau ada rapat gak
datang ataupun tidak menelurkan RUU ataupun mengesahkan undang-undang
yang memihak ke penigkatan kesejahteraan seluruh rakyat indonesia.
Bentar lagi kan ada pemilu 2009. kalau ada calon yang berani membuat
kesepakatan dengan kami masyarakat indonesia untuk memperjuangkan
kesejahteraan (ilmu, kesehatan, ekonomi) dan juga tegas menolak
apa-apa yang akan meruntuhkan persatua dan kesatuan bangsa, memecah
belah bangsa atau politik apapun yang akan menjadikan rakyat susah bin
menderita. Apalagi orang-orang faqir (yang berada di bawah garis
kemiskinan) mereka sangat-sangat-sangat menderita. Yang miskin aja
menderitanya minta ampun apalagi orang-orang faqir?.
Jangan cuman nggembar-nggemborin pemberantasan kemiskinan atau
pemiskinan aja. Yang faqir-faqir tu lho di utamain lebih dulu. Jangan
cuman kantong sampean yang di utamain. Klo ada gambar-gambar / video
sampean di internet lagi sama orang yang …. Itu aja baru malu. Kayak
beberapa waktu lalu di internet banyak bertebaran gambar n video salah
seorang anggota dewan (entah sapa kami lupa namanya dengan seorang
penyanyi dangdut (sapa pula y namanya? Kami males nginget-nginget
hal-hal kayak gitu)
Capek ah, gembar-gembor disini. Mana gaji bulan kemarin lum dikirim.
Istirahat dulu ah. Kalau ada pihak yang tersungging eh tersinggung,
Mohon maaf ya.




2 comments
Comments feed for this article
10 Januari 2009 pada 11:41
cahkudus
Lha gmn ya mas wong kita MOU ja ga pernah tanda tangan
Pa lagi dari Pihak ICT kudus kayake Lepas tangan soal MOU
Ya kalo mo nuntun uang bensi ja ga bisa tow
Ya guru aja tanpa tanda jasa masih dapet gaji
Kalo kita ya cuman pengabdian tanpa tanda jasa
Ya sukur2 kalo da dari pihak tempat magang yang peduli ma pengabdian qta masih dikasih uang bensin tu juga biasane dari pihak swasta tapi kalo dari pihak negri kan ribet harus ada ini lah itu lah kalo tanpa MOU yang lom disetujui antara pihak dinas, ict dan tempat magang ya percuma walhasil.
13 Januari 2009 pada 16:12
Pujangga
Yach mo komen pa yach??? oz bingung juga kalo gitu, soalnya menurut pengamatanku kayaknya hampir 99,9% smua mahasiswa TKJ juga merasakan sama halnya dengan panjenengan mas, (Sst…. RHS aqjuga sama)